Kemenangan HADE yang "Membrojol"

Kemenangan HADE (Ahmad Heryawan-Dede Yusuf) di Pilkada Jawa Barat memang begitu fenomenal. Konstelasi politik segera berubah. PKS memasang target menang 20% di Pemilu 2009 mendatang. PAN merasa pede untuk mencalonkan presiden sendirian. Golkar diguncang isu Munaslub untuk menggantikan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum. PDI Perjuangan semakin merasa perlu untuk membangun koalisi nasionalis sejak dini.

Saya sendiri sempat dibuat tak tidur semalaman. Bagaimana mungkin, berbagai survei yang selalu menempatkan HADE di urutan buncit bisa bertolak belakang dengan hasil Pilkadanya. Apakah mungkin karena iklan AMAN (Agum-Nu'man) yang kurang greget? mesin partai yang tidak jalan? atau ada hal luar biasa lain?

Beruntung saya menyempatkan diri untuk membaca Buku "Solusi untuk Indonesia"-nya Situngkir. Dalam bab awal dari buku ini dijelaskan soal keadaan "emergence" atau "membrojol". Bahwa interaksi nonlinear di antara individu di tingkat makro dapat membentuk pola yang muncul begitu saja, tanpa preseden dari pola di tingkat mikronya. Itulah mengapa lembaga survei selalu mengatakan bahwa hasil surveinya tersebut merupakan potret dari keadaan pada saat survei dilaksanakan.

Keadaan membrojol di atas bisa jadi muncul oleh sebab pilihan dari pemilih yang tidak ajeg... ini berkenaan dengan karakter pemilih Jabar yang 3C (Consumerism, Celebrity, dan Cynicism), sehingga dengan restyling politik PKS & PAN, terbentuk pola baru yang menyebabkan pemilih berarak-arak mencoblos HADE.

Mungkin perlu dianalisis lebih dalam, apakah ketidakajegan preferensi dalam pilkada berkorelasi dengan ketidakajegan dalam soal perkawinan misalnya? Kata seorang saksi di sebuah TPS, 60% coblosan ke kertas suara yang memilih HADE diarahkan ke gambar Dede Yusuf... jangan-jangan sejak kenaikan harga pangan belakangan ini, banyak ibu-ibu yang tak bahagia lagi dengan suaminya... Siapa tahu?! :D

Pancasila dan National Interest

"I pledge allegiance to the flag of the United States of America and to the republic for which it stands, one nation, indivisible, with liberty and justice for all."

Setiap anak sekolah di Amerika pasti hapal dengan sumpah di atas. Tentu saja mereka hapal, karena bahkan sejak Taman Kanak-Kanak pun mereka selalu mengucapkannya pada setiap awal jam sekolah.

Lihat pula Turki. "Each morning, primary school students pledge in chorus to be honest and studious, to protect the young and respect the old, to love their country more than themselves and to give their existence as a present to the Turkish Nation. The chorus is concluded by saying "So happy is the man who says he is a Turk". " (http://www.histclo.com/schun/country/schuntur.html)

Mungkin persis dengan anak sekolah di Indonesia yang "hampir" seluruhnya hapal Pancasila. Sengaja saya katakan "hampir", karena lantas bagaimana dengan anak-anak kita yang belajar di sekolah berbasis kurikulum internasional? Saya agak sangsi, apakah mereka juga disuruh membaca Pancasila setiap hari? Atau jangan-jangan tak satupun sila diajarkan oleh guru-guru mereka?

Apa urusannya dengan Pancasila atau sumpah-sumpah yang dibacakan setiap hari oleh anak-anak Amerika dan Turki itu? Jawabnya adalah National Interest! Di tengah derasnya arus globalisasi, menguatnya nilai-nilai kosmopolitanisme dan mengemukanya ide borderless world, anak-anak Amerika dan Turki masih saja diwajibkan oleh pemerintahnya, menjalankan "tradisi ritual kuno" dengan mengucap sumpah-sumpah ciptaan nenek moyangnya tersebut. Apakah hal demikian hanya dianggap sebagai memelihara tradisi belaka? Sama sekali tidak! Mereka melakukan hal itu karena sadar bahwa national interest yang menjadi jiwa sumpah-sumpah itu menjadi semacam katalis bagi terbentuknya sebuah komunitas bangsa yang anggotanya saling percaya satu sama lain. Rasa saling percaya diantara sesama anggota komunitas inilah yang digambarkan oleh Fukuyama sebagai social capital.

Walau saya sendiri menganggap bahwa kesimpulan ini terlalu dini, tetapi nampaknya ada korelasi positif antara sumpah yang terus diucapkan oleh anak-anak itu, dengan tingginya daya saing dan daya juang mereka kelak. Kenichi Ohmae menulis dalam bukunya yang berjudul "The Professional: A Manifesto for Business in the 21st Century" bahwa "The true professional must be flexible, adept at reading and responding to complex business realities, capable of making correct judgments on short notice, creative and visionary enough to find new paths to success, and possessed of values and ethics that are worthy of the respect of others." Namun saya agak ragu apakah kaum profesional kita juga seperti itu? Beberapa tahun lalu seorang kawan berkelakar, bahwa definisi profesional di kita berarti seseorang yang bekerja sesuai dengan disiplin profesinya tak peduli apakah bosnya seorang penganut Tuhan atau setan.

Kembali ke soal sumpah, di dunia periklanan, kita mengenal istilah "hammering". Suatu iklan yang ditampilkan berulang-ulang dalam rangka memperkenalkan sebuah produk. Kita tentu ingat iklan kue wafer "Tango" yang menampilkan dialog dua anak kecil. "Berapa lapis?", tanya seorang anak. "Ratusan", jawab lainnya. Iklan itu terasa mengesalkan, apalagi jika ditampilkan pada jeda sebuah film favorit yang sedang kita tonton. Tapi efeknya luar biasa, semua orang jadi tahu "Tango". Meski tak persis sama, begitulah efek dari mengucap sumpah berkali-kali. Mungkin terasa membosankan, tetapi sumpah itu pulalah yang akan menjadi basis sistem nilai pada setiap orang, paling tidak, akan selalu diingat hingga akhir hayat.

Sugeng Saryadi suatu ketika pernah bercerita pengalamannya bertemu dengan para profesional muda RRC (Republik Rakyat China). "Orang-orang muda itu tak banyak tahu apa itu komunisme, tetapi mereka paham betul apa arti national interest," ujarnya. Lihat saja sekarang! China adalah salah satu raksasa ekonomi dunia. Dan sumpah apakah yang mereka ucapkan setiap hari ketika masih sekolah dulu? "I am a Young Pioneer. I pledge under the Young Pioneer flag that I am determined to follow the guidance of the Chinese Communist Party, to study hard, work hard and be ready to devote all my strength to the Communist cause."

Saya berharap, suatu saat kelak, ada seorang pejabat yang urung melakukan korupsi karena teringat bahwa tindakan itu hanya akan melanggar sumpahnya untuk mewujudkan "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia".

Persahabatan, Uang, dan Kebebasan

(Bandung, 20 Maret 2004)

Hari ini… biasa saja, tidak ada satu hal yang istimewa, tapi judul di atas mungkin sedikit menggambarkan apa yang menjadi kerisauan hatiku saat ini.

Dalam dunia yang serba diukur dengan materi ini, kata “persahabatan” seringkali menjadi klise. Mungkin anda tidak pernah benar-benar sadar bahwa membangun sebuah persahabatan berarti membuka akes bagi orang lain untuk “menghancurkan” kita. Terkesan sinis memang, tapi itulah yang biasa terjadi.

Lantas, apa korelasinya dengan materi/uang? Ini yang menarik. Ungkapan “There are no eternal friends, there are no eternal enemies either, there are only interests” terkesan dekat dengan kita. Kita tidak lagi bisa menjadi individu yang “bebas”. Bahkan kita mengira, untuk mendapatkan kebebasan, kita harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, sehingga dengan demikian, kita bisa “membeli” kebebasan itu sendiri. Jadi??!! Kita memang tidak pernah bebas!!!

Persahabatan?? Dalam definisi yang sederhana, persahabatan berarti pertemanan yang tulus, tanpa motivasi mencari keuntungan, dan teruji dalam suka dan duka. Lalu? Dengan kehidupan sekarang?? Rasanya tak pernah ada lagi yang namanya “persahabatan”. Atau mungkin betul juga kata-kata John D. Rockefeller, Jr. bahwa “A friendship founded on business is better than a business founded on a friendship”.

Makna persahabatan telah begitu menyempit sehingga mungkin kita harus meredefinisi ulang makna tersebut. Definisi ulang itu bisa berarti: pertemanan yang bebas kepentingan (setelah masing2 teruji dalam soal uang), boleh ada motivasi mencari keuntungan (tentunya dengan persahabatan akan lebih memberikan benefit yang luas), dan kedua belah pihak harus dalam posisi setara (secara fisik, kekayaan, dan perasaan). Jadi tak ada lagi waktu untuk berempati dengan perasaan duka seseorang, kecuali jika itu menguntungkan anda. Bukankah waktu kita harus kita gunakan untuk mencari uang yang notabene dalam rangka "membeli" kebebasan? Kita memang tidak pernah lagi bisa bebas…

Ceu Ien Tea (baca: cinta)

Bisa jadi, aku adalah orang gila yang masuk dalam sekumpulan orang-orang gila, selalu dengan cara yang sama berjibaku untuk memperebutkan dirimu. Sebab bagi orang gila, tak kan pernah ada cara lain untuk mencapai satu hal selain cara yang itu-itu juga.

Bisa jadi pula, aku adalah orang lemah yang selemah-lemahnya dari kumpulan orang-orang lemah, bergeming untuk ingin dekat denganmu. Sebab bagi orang lemah, tak ada keberanian untuk merubah pilihannya.

Aku terus mengetuk pintumu. Dan kau sekalipun tak pernah membukakannya untukku.
Nadiku tak henti mengucap seribu kata tentangmu. Dan kau hanya membalasnya dengan ungkap tak bermakna.
Aku berharap pada sang waktu. Namun ia belum mau melekangkan perasaan rinduku padamu.

Nampaknya “cinta” tak pernah mencintaiku. Ia hanya sepenggal kata yang semakin lama semakin membuatku terasing. Dan suatu saat nanti, -mungkin- aku akan pahami dengan arti yang tak lagi seindah maknanya.

Obrolan Ringan

"Nak, kamu baca segala buku dari Qur'an sampai Baghavad Gita, dari Adam Smith sampai Marx. Hati-hati nak, nanti kamu akan menganggap semua agama benar."

"Justru itu Kyai, saya khawatir kalau saya menganggap bahwa semua agama salah."

Kritik terhadap M. Qodari

Dalam sebuah acara dialog di Metro TV, M. Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer menyebut Megawati Soekarnoputri sebagai primus inter pares dalam organisasi PDI Perjuangan. Qodari mengatakan demikian ketika membandingkan PDI Perjuangan dan Golkar dalam konteks pencalonan presiden pada 2009 mendatang.

Apa sebenarnya arti primus inter pares?

Ia adalah kalimat latin yang artinya -menurut wikipedia- first among equals atau pertama di antara yang setara. Bisa diartikan sebagai jabatan "ketua" pada sekelompok orang yang memiliki level sama dalam sebuah organisasi dan tak memiliki kewenangan mengendalikan kolega lainnya di level tersebut. Sebagai contoh adalah jabatan Ketua DPR, Ketua MA, atau Ketua MK yang tidak memiliki otoritas kendali terhadap koleganya selain hanya mewakili dalam konteks kolektif kolegial dan bersifat administratif belaka.

Berbeda dengan pengertian di atas, jabatan Ketua Umum Partai memiliki otoritas lebih yang biasanya diimplementasikan dalam bentuk diskresi. Sebagai contoh, PDI Perjuangan menjamin diskresi Ketua Umum-nya melalui Pasal 40 Anggaran Dasar dan Pasal 66 Anggaran Rumah Tangga PDI Perjuangan. Jelaslah bahwa Ketua Umum Partai khususnya Ketua Umum PDI Perjuangan bukan merupakan primus inter pares belaka.

Qodari mungkin tidak mengetahui secara pasti aturan main di PDI Perjuangan. Namun jika kita perhatikan benar konteks ucapannya dalam dialog tersebut, nampaknya untuk lain waktu ia perlu hati-hati dalam mengucap kalimat latin agar tak lagi salah arti.

Highly Philosophical - Hilangnya Tesis dan Antitesis

Mungkinkah pada akhirnya muncul sebuah kearifan filosofis yang mereduksi debat panjang mencari sintesis karena para filsuf sadar bahwa eksperimentasi tesis hanya akan melahirkan antitesis yang selalu bergerak menuju kekontradiksian filosofis?

Ataukah bisa jadi, para filsuf kehilangan ruang tesis dan pada akhirnya mau tak mau melahirkan kearifan filosofis bagai menemukan theory of everything ala Stephen Hawking?

Program Pro Rakyat

Image_084_1

(I love You) For Sentimental Reasons

I love you for sentimental reasons
I hope you do believe me
I'll give you my heart

I love you and you alone were meant for me
Please give your loving heart to me
And say we'll never part

I think of you every morning
Dream of you every night
Darling, I'm never lonely
Whenever you are in sight

I love you for sentimental reasons
I hope you do believe me
I've given you my heart

I love you for sentimental reasons
I hope you do believe me
I've given you my heart

Berhenti Mencintaimu Sesulit Berhenti Merokok

Tak perlu aku sebut siapa nama perempuan "jahanam" itu, yang telah tega mengusik ketenanganku, menghantui malam-malam senyapku dengan kehadiran ilusi wajah, kata dan senyumnya.

Seperti kata-kata dalam sebuah lagu Queen, "...Oh to fall in love was my very first mistake..." Mencintaimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang persis sama ketika aku memutuskan untuk mulai merokok.

Awalnya sekadar iseng minta rokok teman, seisap dua isap meski tak nyaman. Begitu pula saat mencintaimu, dari coba-coba, goda-goda, sampai akhirnya terlunta-lunta.

Usaha untuk berhenti mencintaimu bukan hanya sekali dua kali tapi berkali-kali. Tak sedikit pula usahaku untuk benar-benar berhenti merokok. Yang terakhir aku ingat, aku berjani untuk berhenti merokok jika kamu bersedia untuk kucintai.

Aku sepenuhnya tahu bahwa merokok sungguh tak baik bagi kesehatan. Tapi aku masih berpikir, bagaimana nasib buruh pabrik rokok jika aku berhenti merokok? Aku juga bahkan berpikir bagaimana dengan nasibmu jika suatu waktu engkau tiba-tiba memutuskan untuk mencintaiku saat aku telah berhenti mencintaimu?

Betapa sulitnya untuk berhenti mencintaimu sesulit berhenti merokok. Tapi sejak tiga bulan ini aku bisa benar-benar berhenti merokok. Jadi, mestinya aku bisa benar-benar berhenti mencintaimu...:D