"I pledge allegiance to the flag of the United States of America and to the republic for which it stands, one nation, indivisible, with liberty and justice for all."
Setiap anak sekolah di Amerika pasti hapal dengan sumpah di atas. Tentu saja mereka hapal, karena bahkan sejak Taman Kanak-Kanak pun mereka selalu mengucapkannya pada setiap awal jam sekolah.
Lihat pula Turki. "Each morning, primary school students pledge in chorus to be honest and studious, to protect the young and respect the old, to love their country more than themselves and to give their existence as a present to the Turkish Nation. The chorus is concluded by saying "So happy is the man who says he is a Turk". " (http://www.histclo.com/schun/country/schuntur.html)
Mungkin persis dengan anak sekolah di Indonesia yang "hampir" seluruhnya hapal Pancasila. Sengaja saya katakan "hampir", karena lantas bagaimana dengan anak-anak kita yang belajar di sekolah berbasis kurikulum internasional? Saya agak sangsi, apakah mereka juga disuruh membaca Pancasila setiap hari? Atau jangan-jangan tak satupun sila diajarkan oleh guru-guru mereka?
Apa urusannya dengan Pancasila atau sumpah-sumpah yang dibacakan setiap hari oleh anak-anak Amerika dan Turki itu? Jawabnya adalah National Interest! Di tengah derasnya arus globalisasi, menguatnya nilai-nilai kosmopolitanisme dan mengemukanya ide borderless world, anak-anak Amerika dan Turki masih saja diwajibkan oleh pemerintahnya, menjalankan "tradisi ritual kuno" dengan mengucap sumpah-sumpah ciptaan nenek moyangnya tersebut. Apakah hal demikian hanya dianggap sebagai memelihara tradisi belaka? Sama sekali tidak! Mereka melakukan hal itu karena sadar bahwa national interest yang menjadi jiwa sumpah-sumpah itu menjadi semacam katalis bagi terbentuknya sebuah komunitas bangsa yang anggotanya saling percaya satu sama lain. Rasa saling percaya diantara sesama anggota komunitas inilah yang digambarkan oleh Fukuyama sebagai social capital.
Walau saya sendiri menganggap bahwa kesimpulan ini terlalu dini, tetapi nampaknya ada korelasi positif antara sumpah yang terus diucapkan oleh anak-anak itu, dengan tingginya daya saing dan daya juang mereka kelak. Kenichi Ohmae menulis dalam bukunya yang berjudul "The Professional: A Manifesto for Business in the 21st Century" bahwa "The true professional must be flexible, adept at reading and responding to complex business realities, capable of making correct judgments on short notice, creative and visionary enough to find new paths to success, and possessed of values and ethics that are worthy of the respect of others." Namun saya agak ragu apakah kaum profesional kita juga seperti itu? Beberapa tahun lalu seorang kawan berkelakar, bahwa definisi profesional di kita berarti seseorang yang bekerja sesuai dengan disiplin profesinya tak peduli apakah bosnya seorang penganut Tuhan atau setan.
Kembali ke soal sumpah, di dunia periklanan, kita mengenal istilah "hammering". Suatu iklan yang ditampilkan berulang-ulang dalam rangka memperkenalkan sebuah produk. Kita tentu ingat iklan kue wafer "Tango" yang menampilkan dialog dua anak kecil. "Berapa lapis?", tanya seorang anak. "Ratusan", jawab lainnya. Iklan itu terasa mengesalkan, apalagi jika ditampilkan pada jeda sebuah film favorit yang sedang kita tonton. Tapi efeknya luar biasa, semua orang jadi tahu "Tango". Meski tak persis sama, begitulah efek dari mengucap sumpah berkali-kali. Mungkin terasa membosankan, tetapi sumpah itu pulalah yang akan menjadi basis sistem nilai pada setiap orang, paling tidak, akan selalu diingat hingga akhir hayat.
Sugeng Saryadi suatu ketika pernah bercerita pengalamannya bertemu dengan para profesional muda RRC (Republik Rakyat China). "Orang-orang muda itu tak banyak tahu apa itu komunisme, tetapi mereka paham betul apa arti national interest," ujarnya. Lihat saja sekarang! China adalah salah satu raksasa ekonomi dunia. Dan sumpah apakah yang mereka ucapkan setiap hari ketika masih sekolah dulu? "I am a Young Pioneer. I pledge under the Young Pioneer flag that I am determined to follow the guidance of the Chinese Communist Party, to study hard, work hard and be ready to devote all my strength to the Communist cause."
Saya berharap, suatu saat kelak, ada seorang pejabat yang urung melakukan korupsi karena teringat bahwa tindakan itu hanya akan melanggar sumpahnya untuk mewujudkan "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia".